Sinar
Harapan Tak Lagi Terbit
Dikutip dari sinarharapan.com Daud Sinjal,
selaku Pemimpin
Umum - Ketua Dewan Redaksi Sinar Harapan menyampaikan permohonan
maaf dan terima kasihnya kepada mitra usaha, para pengiklan, dan penyalur Sinar
Harapan.
Pada 25 November 2015 lalu, Sinar Harapan, surat kabar
yang dikenal sebagai salah satu koran tertua di Indonesia mengumumkan bahwa
mereka akan mengeluarkan edisi terakhir harian pada 31 Desember 2015
sebelum pamit mundur dari pemberitaan nasional Indonesia karena alasan
finansial. Tidak hanya surat kabar, namun manajemen perusahaan juga memutuskan
untuk tidak melanjutkan lagi portal berita media tersebut. Yang berujung
pada pemutusan hubungan kerja massal.
Harian umum sore, Sinar Harapan, pertama kali hadir pada
27 April 1961, diharuskan tutup pada tahun 1986 oleh pemerintah yang keberatan
dengan isi berita Sinar Harapan. Sinar Harapan pun berhenti terbit, dan pada
tahun 2001 harian Sinar Harapan kembali terbit.
Tak hanya koran Sinar Harapan saja yang berhenti terbit, koran Harian
Bola, Jakarta Globe dan Koran Temp Minggu pun tak lagi terbit. Ini
adalah satu contoh terpuruknya media cetak di Tanah Air kita. Juga tidak
dipungkiri bahwa ini adalah salah satu pro dan kontra dari kemajuan teknologi,
digital media, dan media online di dunia yang tentunya berdampak di Tanah Air.
Bila kita ulas lebih dalam, setidaknya ada tiga faktor utama penyebab
anjloknya media cetak. Pertama, banyaknya pesaing dengan media sejenis sehingga
pembaca cenderung membelanjakan uangnya hanya untuk media-media tertentu.
Kedua, jumlah pembaca yang menurun karena perubahan perilaku pembaca.
Masyarakat kini lebih senang mengakses berita melalui smartphone. Ketiga,
tingginya beban biaya cetak akibat perubahan harga kertas yang rentan dengan
kurs dollar yang naik turun. Saat harga dollar meroket, harga kertas langsung
naik secara otomatis. Tapi jika dollar turun, tidak serta merta harga kertas
turun. Disamping itu, tingginya biaya lain termasuk biaya distribusi, biaya
lain juga terus meningkat setiap tahun, sehingga semakin membebani posisi
keuangan perusahan.
Dengan alasan - alasan tersebut,penderitaan media cetak terutama
media-media kecil semakin bertambah. Media
cetak tidak seperti bisnis lainnya, seperti bisnis retail yang cash and carry,
bisnis media cetak bersifat konsinyasi. Majalah atau koran yang dititipkan ke
para agen, penagihannya bersifat 1+3 dengan margin rata-rata 30% untuk agen.
Artinya, untuk satu barang dikirim, penagihan baru bisa dilakukan untuk barang
ketiga, setelah dipotong hak agen.
Perhitungan dan pencatatan masih bersifat manual, baik untuk
stok barang, barang yang sudah terjual, maupun yang sudah dibayarkan. Semuanya
hanya dicatat dalam buku besar. Karena masih tradisional, tak heran jika sistem
keuangannya semakin rumit. Tak jarang para agen menggunakan dana milik salah
satu media untuk dipakai menutupi kewajibannya kepada media lain. Pola ini
sepertinya sudah baku. Begitu seterusnya. Bahkan praktek ini juga diterapkan
oleh agen-agen besar.
Tentu hal ini merugikan media bersangkutan, karena pembayaran
bisa menjadi tersendat. Imbasnya awak distribusi, terutama kolektor kerap bersitegang dengan para agen. Pembayaran yang
dijanjikan selalu tidak tepat waktu. Tak sedikit pula ditemukan agen nakal yang
memberikan cek kosong.
Jika urusan penagihan dengan para agen kerap tidak mulus, hal
yang sama juga terjadi saat berurusan dengan pembayaran iklan. Sudah bukan
rahasia lagi jika tagihan iklan tidak bisa cepat cair, apalagi jika itu melalui
agency. Umur piutang yang lama dan berpotensi tidak tertagih memang menghantui
bisnis media cetak. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, akan mengganggu cash
flow yang berujung menjadi pemicu kebangkrutan.
Lahan untuk pertumbuhan bisnis media cetak kini juga sudah
sangat terbatas. Baik dari sisi jumlah pembaca maupun jumlah sponsor dan
pengiklan yang terus menurun karena beralih ke media digital - online. Seiring
dengan tren media digital, banyak perusahaan yang mengalihkan belanja iklan ke
media-media online, sosial media. Selain bersaing dengan media-media
tradisional lainnya, media digital kini adalah ancaman yang nyata bagi
kelangsungan bisnis media cetak.
Media digital tumbuh massif dalam beberapa tahun belakangan ini,
sejalan dengan tingginya pengguna smartphone. Ia menjadi ancaman yang
sesungguhnya bagi kelangsungan bisnis media cetak.
Untuk dapat bertahan di dunia media cetak, diperlukan inovasi
baru yang dapat menarik minat pembaca tanah air. Bagaimana pun tak ada bisnis
yang survive jika tidak mampu berinovasi. Begitu pun dengan media cetak yang
sesungguhnya secara bisnis sulit untuk berkembang seperti dahulu kala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar